Rabu, 16 Februari 2011

Dengan adanya berbagai agama, bagaimana saya tahu mana yang benar?

Pertanyaan: Dengan adanya berbagai agama, bagaimana saya tahu mana yang benar?

Jawaban:
Tidak diragukan bahwa banyaknya agama yang berbeda dalam dunia menyulitkan untuk mengetahui mana yang benar. Pertama-tama, mari kita memikirkan beberapa pemikiran mengenai topik ini secara umum dan kemudian melihat bagaimana seseorang dapat mendekati topik itu dengan cara yang benar-benar dapat mencapai kesimpulan yang benar mengenai Allah. Tantangan jawaban yang berbeda terhadap isu tertentu tidak terbatas hanya pada topik agama. Misalnya, 100 siswa matematika diberikan pertanyaan yang sulit untuk mereka selesaikan, dan kemungkinan banyak yang akan memberi jawaban yang salah. Namun apakah ini berarti tidak ada jawaban yang benar? Bukan demikian. Mereka yang menjawab salah hanya perlu diperlihatkan kesalahannya dan mengetahui teknik yang diperlukan untuk mendapat jawaban yang benar.

Bagaimana kita mendapatkan kebenaran mengenai Allah? Kita menggunakan metodologi yang sistematis yang dirancang untuk memisahkan kebenaran dari kesalahan dengan menggunakan berbagai tes kebenaran, di mana hasil akhirnya adalah sekumpulan kesimpulan yang benar. Dapatkah Anda membayangkan hasil akhir yang akan dicapai oleh seorang ilmuwan kalau dia pergi ke lab dan mulai mencampur berbagai zat tanpa irama atau alasan? Atau kalau seorang dokter mulai mengobati seorang pasien dengan obat secara acak sambil berharap dia akan sembuh? Ilmuwan maupun dokter tidak menggunakan pendekatan semacam ini; sebaliknya mereka menggunakan metode yang sistematis, yang metodis, logis, dapat dibuktikan, dan terbukti menghasilkan hasil akhir yang benar.

Kalau demikian, mengapa teologia – kajian mengenai Allah – harus berbeda? Mengapa percaya bahwa teologia dapat didekati secara sembarangan dan secara tidak disiplin dan pada akhirnya menghasilkan kesimpulan yang benar? Sayangnya, ini adalah pendekatan yang dilakukan oleh banyak orang, dan inilah salah satu alasan mengapa ada begitu banyak agama. Setelah mengatakan itu, kita kembali kepada pertanyaan bagaimana kita dapat mencapai kesimpulan yang benar mengenai Allah. Pendekatan sistematis bagaimana yang harus digunakan? Pertama-tama, kita perlu menentukan kerangka kerja untuk menguji berbagai klaim mengenai kebenaran, dan kemudian kita membutuhkan peta yang dapat diikuti untuk mencapai kesimpulan yang benar. Berikut ini adalah sebuah kerangka kerja yang baik untuk digunakan:

1. Konsistensi logis - klaim dari suatu sistem kepercayaan harus masuk akal dan tidak bertentangan satu dengan lainnya dengan cara apa pun. Misalnya, tujuan akhir dari Budhisme adalah menghapuskan semua keinginan. Namun untuk dapat menghapuskan keinginan orang harus menginginkan, ini bertentangan dan merupakan prinsip yang tidak logis.

2. Kecukupan empiris - apakah ada bukti yang mendukung sistem kepercayaan itu (baik bukti rasionil, bukti dari luar, dll)? Jelas diperlukan bukti untuk klaim penting yang dibuat supaya apa yang dikatakan dapat diverifikasikan. Misalnya, Mormon mengajarkan bahwa Yesus tinggal di Amerika Utara. Namun sama sekali tidak ada bukti, baik arkeologis, maupun lainnya, yang mendukung klaim itu.

3. Relevansi eksistensial – sistem kepercayaan itu harus menuruti realita sebagaimana yang kita kenal, dan harus menghasilkan perbedaan dalam hidup penganutnya. Deisme, misalnya, mengklaim bahwa Allah melemparkan dunia yang berputar ke dalam alam raya dan tidak berinteraksi dengan yang berdiam di dalamnya. Bagaimana dampak kepercayaan semacam itu bagi seseorang dalam kehidupan sehari-hari? Singkatnya, tidak ada.

Kerangka kerja di atas, ketika diterapkan pada agama, akan mengarahkan seseorang pada pandangan yang benar akan Allah dan akan menjawab empat pertanyaan besar mengenai hidup:

1. Asal mula - dari mana kita berasal?
2. Etika – bagaimana seharusnya kita hidup?
3. Makna - apa tujuan hidup?
4. Nasib - ke mana arah umat manusia?

Namun bagaimana orang dapat menerapkan kerangka kerja ini dalam pencarian akan Allah? Pendekatan tanya/jawab langkah demi langkah adalah cara terbaik untuk digunakan. Menyaring daftar pertanyaan yang mungkin akan menghasilkan pertanyaan-pertanyaan berikut:

1. Apakah kebenaran mutlak itu ada?
2. Apakah rasio dan agama bisa dicampurkan?
3. Apakah Allah ada?
4. Dapatkah Allah dikenal?
5. Apakah Yesus itu Allah?
6. Apakah Allah memperdulikan saya?

Pertama-tama kita perlu mengetahui apakah kebenaran mutlak itu ada. Kalau tidak ada, maka kita tidak bisa mengetahui apa pun secara pasti (rohani atau bukan), dan kita akan menjadi seorang agnostik, tidak yakin apakah kita bisa betul-betul mengetahui sesuatu, atau seorang pluralis, menerima setiap posisi karena kita tidak pasti mana, kalaupun ada, yang benar.

Kebenaran mutlak didefinisikan sebagai yang sesuai dengan realita, yang sesuai dengan obyeknya, menyatakan sebagaimana adanya. Beberapa orang mengatakan bahwa tidak ada yang namanya kebenaran mutlak, namun bersikap seperti ini menghancurkan diri sendiri. Misalnya, kaum relativis mengatakan, "Semua kebenaran itu relatif," namun orang harus bertanya: apakah pernyataan itu benar secara mutlak? Kalau begitu, berarti kebenaran mutlak ada; kalau tidak, kenapa pikirkan? Postmodernisme tidak menerima kebenaran apa pun, namun postmodernisme menerima paling sedikit satu kebenaran mutlak: postmodernisme adalah benar adanya. Pada akhirnya, kebenaran mutlak tak dapat disangkali

Lebih lanjut lagi, kebenaran mutlak pada dasarnya bersifat sempit dan menolak yang berlawanan. Dua tambah dua sama dengan empat, tidak ada jawaban lain yang mungkin. Butir ini penting adanya saat membandingkan sistem kepercayaan dan pandang dunia yang berbeda. Kalau suatu sistem kepercayaan memiliki komponen yang terbukti kebenarannya, maka sistem kepercayaan lain yang memiliki klaim yang berlawanan pastilah salah. Lagi pula, kita harus ingat bahwa kebenaran yang mutlak tidak dipengaruhi oleh ketulusan dan keinginan. Tidak peduli berapa tulusnya seseorang dalam percaya kepada dusta, itu tetap dusta. Tidak ada keinginan dalam dunia yang dapat membenarkan apa yang salah.

Jawaban dari pertanyaan pertama adalah kebenaran mutlak itu ada. Karena itu, agnostisme, postmodernisme, relativisme and skeptisime semuanya adalah posisi yang salah.

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan berikutnya mengenai apakah akal/logika dapat digunakan dalam soal agama. Ada yang mengatakan tidak mungkin, namun – mengapa tidak? Yang benar adalah, logika itu vital ketika menganalisa klaim rohani karena logika membantu kita memahami mengapa ada klaim yang harus ditolak sementara yang lainnya diterima. Logika sangat penting dalam membongkar pluralisme (yang mengatakan bahwa semua klaim kebenaran, bahkan yang saling bertentangan pun, adalah benar dan sah).

Misalnya, Islam dan Yudaisme mengklaim bahwa Yesus bukan Allah, sementara keKristenan mengklaim Dia adalah Allah. Salah satu hukum dasar dari logika adalah hukum tidak-bertentangan, yang mengatakan bahwa sesuatu tidak bisa merupakan "A" dan "bukan-A" pada saat bersamaan dan dalam pengertian yang sama. Menerapkan hukum ini kepada klaim Yudaisme, Islam dan keKristenan berarti bahwa salah satunya benar sementara yang dua salah. Yesus tidak bisa merupakan Allah dan sekaligus bukan Allah. Digunakan secara patut, logika adalah senjata yang ampuh untuk melawan pluralisme karena menunjukkan bahwa klaim yang bertentangan terhadap kebenaran tidak mungkin sama benarnya. Pemahaman ini merobohkan cara berpikir "benar untuk kamu namun tidak benar untuk saya."

Logika juga membuang analogi “semua jalan menuju ke Roma” yang digunakan oleh para penganut pluralis. Logika menunjukkan bahwa setiap sistem kepercayaan memiliki tanda-tanda masing-masing yang menunjuk pada lokasi yang pada akhirnya berbeda. Logika memperlihatkan bahwa ilustrasi yang tepat untuk pencarian kebenaran rohani adalah seperti jalan yang rumit - satu jalur menuntun sampai kepada kebenaran, sementara semua lainnya buntu. Semua kepercayaan memiliki kesamaan di permukaan, namun dalam inti pengajaran mereka amat berbeda.

Kesimpulannya adalah bahwa Anda dapat menggunakan akal dan logika dalam urusan agama. Karena itu, pluralisme (kepercayaan bahwa semua klaim kebenaran sama benar dan sahnya) dibuang karena tidak logis dan bertentangan dengan kepercayaan bahwa klaim kebenaran yang bertentangan bisa sama benarnya.

Berikutnya pertanyaan yang besar: apakah Allah ada? Kaum ateis dan naturalis (yang tidak menerima apa pun selain dunia fisik mengatakan “tidak.” Sekalipun sepanjang sejarah pertanyaan ini sudah banyak ditulis dan diperdebatkan, tidaklah sulit untuk menjawabnya. Untuk memberinya bobot yang pantas, Anda pertama-tama harus menanyakan pertanyaan ini: Mengapa kita memiliki sesuatu dan bukannya sama sekali tidak ada? Dengan kata lain, bagaimana Anda dan semua yang lainnya bisa ada? Dukungan untuk Allah dapat disajikan dengan amat sederhana:

Ada sesuatu.
Sesuatu tidak berasal dari yang tidak ada.
Karena itu Pribadi yang kekal itu ada.

Anda tidak dapat menyangkal bahwa Anda itu ada karena Anda harus ada baru dapat menyangkali keberadaan Anda (yang menghancurkan diri sendiri), jadi premis pertama di atas benar adanya. Tidak ada orang yang percaya bahwa Anda bisa mendapatkan sesuatu dari yang tidak ada (yaitu, “tidak ada” bisa menghasilkan alam raya), jadi premis yang kedua benar adanya. Karena itu, premis yang ketiga pasti benar – ada Pribadi yang kekal yang bertanggung jawab untuk segala yang ada.

Ini adalah posisi yang tidak akan disangkali oleh orang ateis yang berpikir; mereka hanya mengklaim bahwa alam raya adalah sang pribadi kekal itu. Namun demikian, masalah dengan kedudukan itu adalah semua bukti ilmiah menunjuk pada fakta bahwa alam raya memiliki awal (“letusan besar”). Dan segala sesuatu yang memiliki awal harus memiliki penyebab; oleh karena itu, alam raya memiliki penyebab dan tidak kekal. Karena kedua sumber kekekalan adalah alam semesta yang kekal (terbukti tidak benar) atau Pencipta yang kekal, maka kesimpulan logis adalah Allah itu ada. Menjawab keberadaan Allah secara pasti menghapuskan ateisme sebagai sistem kepercayaan yang sah.

Kesimpulan ini tidak berbicara apa-apa mengenai Allah seperti apa yang ada, namun yang mengagumkan adalah hal ini menyapu satu hal – kesimpulan ini menyingkirkan semua agama panteistik. Semua pandang dunia panteistik mengatakan bahwa alam semesta adalah Allah dan bersifat kekal. Dan pernyataan ini salah adanya. Jadi Hinduisme, Budhisme, Jainisme dan semua agama panteistik tersingkir dari sistem kepercayaan yang sah.

Lebih lanjut lagi, kita mempelajari beberapa hal yang menarik mengenai Allah yang menciptakan alam semesta ini. Dia:

• Bersifat supranatural (Dia berada di luar ciptaan-Nya)
• Dia sangat berkuasa (sanggup menciptakan semua yang diketahui)
• Kekal (ada pada diriNya sendiri, karena Dia berada di luar waktu dan ruang)
• Mahahadir (Dia menciptakan ruang dan tidak dibatasi oleh ruang)
• Tanpa batas waktu dan tidak berubah (Dia menciptakan waktu)
• Tidak bersifat materi (karena Dia melampaui ruang)
• Pribadi (yang tidak bersifat pribadi tidak dapat menciptakan kepribadian).
• Perlu (segala sesuatu bergantung kepadaNya)
• Tidak terbatas dan tunggal (tidak bisa ada dua yang tidak terbatas)
• Beraneka ragam, namun bersatu (sebagaimana alam menunjukkan keanekaragaman)
• Berakal budi (sangguo menciptakan segalanya)
• Moral (tidak ada hukum moral yang bisa ada tanpa pemberi hukum)
• Peduli (kalau tidak, tidak akan ada hukum moral yang diberikan)

Pribadi ini memperlihatkan ciri-ciri yang amat serupa dengan Allah Yudaisme, Islam dan keKristenan, yang menariknya adalah satu-satunya iman inti yang masih tesisa setelah ateisme dan panteisme dihapuskan. Perhatikan bahwa salah satu pertanyaan besar dalam hidup (asal mula) sekarang terjawab: kita tahu dari mana asal usul kita.

Hal ini membawa kita kepada pertanyaan berikut: dapatkah kita mengenal Allah? Pada titik ini, perlunya agama digantikan oleh sesuatu yang lebih penting – perlunya pewahyuan. Agar umat manusia dapat mengenal Allah ini dengan baik, tergantung pada Allah untuk mewahyukan diri-Nya kepada ciptaan-Nya. Yudaisme, Islam dan keKristenan semua mengklaim memiliki kitab yang adalah wahyu Allah kepada manusia, namun pertanyaannya adalah yang mana (kalau ada) yang benar? Tanpa memperdulikan perbedaan-perbedaan kecil, ada dua pertentangan yang utama, yaitu 1) Alkitab Perjanjian Baru 2) pribadi Yesus Kristus. Islam dan Yudaisme keduanya mengklaim bahwa Alkitab Perjanjian Baru tidak benar dalam klaimnya, dan keduanya menolak bahwa Yesus adalah Allah yang berinkarnasi, sementara keKristenan menerima keduanya sebagai benar.

Tidak ada kepercayaan di atas bumi ini yang dapat mengimbangi segunung bukti yang mendukung keKristenan. Mulai dari besarnya jumlah naskah-naskah kuno, mulai dari yang paling awal yaitu dokumen yang tertanggalkan pada saat para saksi mata masih hidup (beberapa hanya 15 tahun setelah kematian Kristus), sampai pada banyaknya kisah (sembilan penulis untuk 27 kitab Perjanjian Baru), sampai pada bukti arkeologis - tidak ada satupun yang bertentangan dengan satu klaim pun dari Perjanjian Baru - sampai pada fakta bahwa para rasul sampai mati pun mengklaim bahwa mereka telah melihat apa yang dilakukan oleh Yesus dan bahwa Dia bangkit kembali dari kematian, keKristenan menentukan standar dalam penyediaan bukti untuk mendukung klaimnya. Otentisitas historis Perjanjian Baru - bahwa PB menyajikan kisah yang sejati mengenai peristiwa yang sebenarnya sebagaimana terjadinya - adalah satu-satunya kesimpulan yang tepat begitu semua bukti sudah ditelaah.

Mengenai Yesus, orang mendapatkan hal yang amat menarik mengenai Dia - Dia mengklaim sebagai Allah dalam wujud manusia. Kata-kata Yesus sendiri (e.g. “Sebelum Abraham dilahirkan Aku sudah ada), perbuatan-Nya (e.g. mengampuni dosa, menerima penyembahan), hidup-Nya yang tanpa dosa dan penuh mujizat (yang digunakan-Nya untuk membuktikan kebenaran klaim-Nya dibandingkan klaim-klaim yang bertentangan), dan kebangkitan-Nya semua mendukung klaim-Nya bahwa Dia adalah Allah. Penulis Perjanjian Baru menegaskan fakta ini berulang-ulang dalam tulisan mereka.

Kalau Yesus adalah Allah, maka apa yang Dia katakan pastilah benar. Dan kalau Yesus mengatakan bahwa Alkitab tanpa salah dan benar dalam segala yang dikatakan (dan Dia mengatakan demikian), hal ini berarti bahwa Alkitab adalah benar dalam apa yang dikatakan. Sebagaimana yang telah kita pelajari, dua klaim kebenaran yang berlawanan tidak mungkin benar kedua-duanya. Jadi segala sesuatu dalam Qur’an Islam atau tulisan Yudaisme yang bertentangan dengan Alkitab tidak mungkin benar. Kenyataannya, baik Islam maupun Yudaisme gagal karena keduanya mengatakan bahwa Yesus bukan Allah yang berinkarnasi, sementara bukti memperlihatkan bahwa Dia adalah demikian. Dan karena kita betul-betul dapat mengenal Allah (karena Dia telah mengungkapkan diri-Nya dalam firmanNya yang tertulis dan dalam Kristus), segala bentuk agnostisisme dapat ditolak. Akhirnya, pertanyaan besar lainnya mengenai kehidupan terjawab – yaitu mengenai etika – karena Alkitab mengandung instruksi yang jelas mengenai bagaimana umat manusia harus hidup.

Alkitab yang sama memproklamirkan bahwa Allah amat peduli kepada umat manusia dan menghendaki agar semua mengenal Dia dengan intim. Bahkan Dia begitu pedulinya sampai Dia menjadi manusia untuk memperlihatkan kepada ciptaan-Nya bagaimana Dia sebenarnya. Ada banyak orang yang berusaha menjadi Allah, namun hanya adalah satu Allah yang menjadi manusia supaya Dia dapat menyelamatkan mereka yang amat Dia cintai dari keterpisahan kekal dengan-Nya. Fakta ini memperlihatkan relevansi eksistensial keKristenan dan juga menjawab kedua pertanyaan besar terakhir mengenai hidup – makna dan nasib. Setiap orang dirancang oleh Allah dengan tujuan tertentu, dan setiap orang memiliki nasib yang menantikan dia - baik hidup kekal bersama Allah atau terpisah secara kekal dari Allah. Kesimpulan ini (dan bahwa Allah menjadi manusia dalam Kristus) juga menolak Deisme, yang mengatakan bahwa Allah tidak tertarik pada urusan manusia.

Pada akhirnya kita melihat bahwa kebenaran utama mengenai Allah dapat ditemukan dan pandangan yang berbelit-belit berhasil dilalui dengan sukses dengan menguji berbagai klaim kebenaran dan secara sistematis menyingkirkan yang salah sehingga hanya kebenaran yang tersisa. Dengan menggunakan uji konsistensi logis, kecukupan empiris, dan relevansi eksistensial, ditambah dengan menanyakan pertanyaan yang benar, kesimpulan yang benar dan berdasar mengenai agama dan Allah dihasilkan. Setiap orang harus sepakat bahwa satu-satunya alasan untuk mempercayai sesuatu adalah bahwa itu benar adanya – itu saja. Sayangnya, keyakinan sejati adalah soal kehendak, dan berapa banyak pun bukti logis yang disajikan, tetap ada saja yang memilih untuk menyangkal Allah yang ada dan tidak melihat satu-satunya jalan yang sejati untuk berdamai dengan Dia.

Apa arti hidup?

Pertanyaan: Apa arti hidup?

Jawaban:
Apakah arti hidup? Bagaimana saya dapat menemukan tujuan, pemenuhan dan kepuasan dalam hidup? Apakah saya memiliki potensi untuk mencapai sesuatu yang memiliki makna yang langgeng? Banyak orang tidak pernah berhenti mempertimbangkan apakah arti hidup itu. Mereka memandang ke belakang dan tidak mengerti mengapa relasi mereka berantakan dan mengapa mereka merasa begitu kosong walaupun mereka telah berhasil mencapai apa yang mereka cita-citakan. Salah satu pemain baseball yang namanya dicatat dalam Baseball Hall of Fame ditanya apa yang dia harap orang beritahu dia ketika dia baru mulai bermain baseball. Dia menjawab, “Saya berharap orang akan memberitahu saya bahwa ketika kamu sampai di puncak, di sana tidak ada apa-apa.” Banyak sasaran hidup ternyata kosong setelah dikejar dengan sia-sia bertahun-tahun lamanya.

Dalam masyarakan humanistik kita, orang mengejar banyak cita-cita, menganggap bahwa di dalamnya mereka akan mendapatkan makna. Beberapa cita-cita ini termasuk: kesuksesan bisnis, kekayaan, relasi yang baik, seks, hiburan, berbuat baik kepada orang lain, dll. Orang-orang memberi kesaksian bahwa saat mereka mencapai cita-cita mereka untuk mendapat kekayaan, relasi dan kesenangan, di dalam diri mereka ada kekosongan yang dalam, perasaan kosong yang tidak dapat dipenuhi oleh apapun.

Penulis kitab Pengkhotbah menjelaskan perasaan ini ketika dia mengatakan, “Kesia-siaan belaka, kesia-siaan belaka, … segala sesuatu adalah sia-sia.” Penulis memiliki kekayaan yang tak terkira, hikmat kebijaksanaan yang melampaui orang-orang pada zamannya maupun zaman sekarang, dia memiliki ratusan wanita, istana dan taman yang menjadikan kerajaan-kerajaan lain cemburu, makanan dan anggur terbaik, dan segala bentuk hiburan. Satu saat dia berkata, segala yang diinginkan hatinya dikejarnya. Namun kemudian dia menyimpulkan, “hidup di bawah matahari” (hidup dengan sikap sepertinya hidup itu hanyalah apa yang kita lihat dan rasakan) adalah kesia-siaan belaka! Mengapa bisa ada kehampaan seperti ini? Karena Allah menciptakan kita untuk sesuatu yang melampaui apa yang dapat kita alami dalam dunia sekarang ini. Tentang Allah, Salomo berkata, “Ia memberikan kekekalan dalam hati mereka …” Dalam hati kita, kita senantiasa sadar bahwa dunia sekarang ini bukan segalanya.

Dalam kitab Kejadian, kitab pertama dalam Alkitab, kita mendapatkan bahwa Tuhan menciptakan manusia menurut gambarNya (Kejadian 1:26). Ini berarti kita lebih mirip dengan Tuhan daripada dengan ciptaan-ciptaan lainnya. Kita juga mendapatkan bahwa sebelum manusia jatuh dalam dosa dan bumi dikutuk: (1) Tuhan menciptakan manusia sebagai makhluk sosial (Kejadian 2:18-25); (2) Tuhan memberi manusia pekerjaan (Kejadian 2:15); (3) Tuhan memiliki persekutuan dengan manusia (Kejadian 3:8); dan (4) Tuhan memberi manusia kuasa atas bumi ini (Kejadian 1:26). Apakah arti semua ini? Saya percaya bahwa Allah menginginkan semua ini menambah kepuasan dalam hidup kita, namun semua ini (khususnya persekutuan manusia dengan Tuhan) telah dirusakkan oleh kejatuhan manusia ke dalam dosa dan juga oleh kutukan atas bumi ini (Kejadian 3).

Dalam kitab Wahyu, kitab terakhir dalam Alkitab, di bagian akhir dari banyak peristiwa yang terjadi pada zaman akhir, Tuhan mengungkapkan bahwa Dia akan menghancurkan langit dan bumi ini dan membawa kekekalan dengan menciptakan langit dan bumi yang baru. Pada waktu itu Dia akan memulihkan persekutuan dengan orang-orang yang sudah ditebus. Sebagian umat manusia akan dihukum dan dilemparkan ke dalam Lautan Api (Wahyu 20:11-15). Pada waktu ini kutukan atas bumi ini akan disingkirkan, dan tidak akan ada lagi dosa, kesusahan, penyakit, kematian, kesakitan, dll (Wahyu 21:4). Dan orang-orang percaya akan mewarisi segala sesuatu, Allah akan berdiam dengan mereka dan mereka akan menjadi anak-anakNya (Wahyu 21:7). Dengan demikian kita menggenapi siklus di mana Allah menciptakan kita untuk bersekutu dengan Dia, manusia jatuh dalam dosa dan memutuskan persekutuan itu; dalam kekekalan Allah memulihkan hubungan itu secara penuh dengan orang-orang yang Dia pandang layak. Hidup dalam dunia ini dan mendapatkan segala sesuatu hanya untuk mati dan terpisah dari Tuhan untuk selama-lamanya adalah lebih buruk dari kesia-siaan! Namun Tuhan telah membuat jalan di mana bukan saja kebahagiaan kekal dimungkinkan (Lukas 23:43), namun juga agar hidup sekarang ini memuaskan dan berarti.

Sekarang, bagaimana kebahagiaan kekal dan “surga di bumi” ini dapat diperoleh?

MAKNA HIDUP DIPULIHKAN MELALUI YESUS KRISTUS

Sebagaimana telah diindikasikan di atas makna hidup, baik sekarang maupun dalam kekekalan ditemukan dalam hubungan yang dipulihkan dengan Tuhan; hubungan yang telah lenyap ketika Adam dan Hawa jatuh dalam dosa. Hari ini, hubungan dengan Allah itu dimungkinkan hanya melalui AnakNya, Yesus Kristus (Kisah Rasul 4:12; Yohanes 14:6; 1:12). Hidup kekal diperoleh ketika seseorang menyesali dosa-dosanya (tidak mau lagi hidup dalam dosa namun ingin Kristus mengubah mereka dan menjadikan mereka pribadi-pribadi yang baru) dan milai bergantung pada Yesus Kristus sebagai Juruselamat (lihat pertanyaan: “Apa itu rencana keselamatan?” untuk informasi lebih lanjut tentang topik penting ini)

Arti hidup yang sebenarnya tidak ditemukan hanya dengan mengenal Yesus sebagai Juruselamat (seindah apapun hal itu). Makna hidup yang sebenarnya ditemukan ketika orang mulai berjalan mengikuti Kristus sebagai muridNya, belajar dari Dia, menggunakan waktu bersama dengan Dia dalam FirmanNya, Alkitab, bersekutu dengan Dia dalam doa, dan berjalan denganNya dalam ketaatan kepada perintah-perintahNya. Jikalau Anda adalah orang yang belum percaya (atau baru percaya), Anda mungkin akan mengatakan kepada diri sendiri, “Sepertinya itu tidak terlalu menggairahkan atau menyenangkan untuk saya!” Tapi tolong baca lebih lanjut. Yesus membuat pernyataan-pernyataan ini:

“Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan. Sebab kuk yang Kupasang itu enak dan beban-Kupun ringan" (Matius 11:28-30). “Aku datang, supaya mereka mempunyai hidup, dan mempunyainya dalam segala kelimpahan” (Yohanes 10:10b). "Setiap orang yang mau mengikut Aku, ia harus menyangkal dirinya, memikul salibnya dan mengikut Aku. Karena barangsiapa mau menyelamatkan nyawanya, ia akan kehilangan nyawanya; tetapi barangsiapa kehilangan nyawanya karena Aku, ia akan memperolehnya” (Matius 16:24-25). “Dan bergembiralah karena TUHAN; maka Ia akan memberikan kepadamu apa yang diinginkan hatimu” (Mazmur 37:4).

Apa yang dikatakan oleh ayat-ayat ini adalah bahwa kita memiliki pilihan. Kita bisa terus berusaha mengarahkan hidup kita sendiri (dan sebagai hasilnya hidup dalam kehidupan yang kosong) atau kita bisa memilih untuk mengikuti Tuhan dan rencanaNya bagi hidup kita, mengikutiNya dengan sepenuh hati (hasilnya, hidup yang penuh, cita-cita kesampaian, dan mendapatkan kepuasan). Hal ini karena Pencipta kita mengasihi kita dan menghendaki yang terbaik bagi kita (bukan selalu yang paling mudah, tapi yang paling memuaskan).

Sebagai penutup, saya ingin membagikan sebuah perumpamaan yang saya pinjam dari seorang teman pendeta. Jikalau Anda adalah penggemar olahraga dan Anda memutuskan untuk pergi ke pertandingan professional, Anda dapat membayar beberapa dollar, dan duduk di barisan paling atas di stadion, atau Anda merogoh beberapa ratus dollar dan duduk dekat dengan lapangan pertandingan. Demikian pula dengan hidup keKristenan. Menyaksikan Tuhan bekerja SECARA LANGSUNG bukanlah bagian dari orang-orang Kristen hari Minggu. Menyaksikan Allah bekerja SECARA LANGSUNG adalah bagi murid-murid Tuhan yang sepenuh hati, yang telah berhenti mengejar keinginan mereka sendiri dalam hidup ini supaya mereka bisa mengejar rencana Tuhan. MEREKA telah membayar harga (penyerahan penuh kepada Kristus dan kehendakNya); mereka menikmati hidup secara penuh; dan mereka bisa memandang diri sendiri, teman-teman mereka, dan Pencipta mereka tanpa ada penyesalan. Sudahkah Anda membayar harga? Apakah Anda bersedia? Jika demikian, Anda tidak akan pernah kehilangan makna atau tujuan hidup lagi.